Translate This Language

Minggu, 22 Desember 2013

Imam Masjidil Haram: Salju Turun di Arab, Tanda Kiamat Sudah Dekat



Selama ratusan tahun, salju dikenal turun di seputar Amerika Utara, Eropa, dan sebagian Asia pada bulan Desember. Namun kini faktanya, salju bahkan turun di bumi Afrika Utara tepatnya di Mesir. Fenomena langka ini terjadi pada pekan lalu, Jumat 13 Desember 2013 tepatnya di Kairo, Ibukota Mesir. Salju itu turun setelah badai salju menghantam Israel dan juga Suriah. Sebelumnya, belum pernah dilaporkan bahwa hujan salju pernah turun di Mesir. Menurut kantor berita AFP, seorang staf pusat meteorologi Mesir yang bernama Ali Abdelazim melaporkan bahwa sudah lama sekali tidak ada salju di Mesir. Salju dilaporkan turun di negara tersebut sekitar 112 tahun yang lalu, namun ini juga belum merupakan prediksi pasti karena bisa jadi salju belum pernah turun di negeri tersebut.
Selain Kairo, salju juga dilaporkan turun di dataran tinggi Semenanjung Sinai dan Biara Santo Katharina di perbukitan. Sedangkan utara Mesir, salju juga menutupi seluruh kota Ras el-Bar dan Aleksandria. Sebelum diberitakan turun di Mesir, salju juga pernah turun di bumi Arab Saudi dan juga Afrika Selatan.
Imam Masjidil Haram Syeikh Suâud Syuraim mengatakan, hal tersebut membuktikan bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam benar-benar seorang Nabi dan Rasul yang menerima wahyu dari Allah Subhanahu wa Taâala.
Syaikh Syuraim menambahkan, salju merupakan komponen utama dalam pembentukan sungai dan tumbuhan. Berjatuhannya salju di Jazirah Arab membuktikan kebenaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda,
Hari Kiamat baru akan datang setelah negeri Arab kembali menjadi padang yang hijau dan sungai-sungai. (HR.Muslim)
Syeikh Syuraim juga menyebutkan bahwa baru-baru ini salju telah turun di daerah Tabuk. Hal itu mengingatkan sabda Rasulullah shallallahu âalaihi wasallam kepada Muadz saat perang Tabuk,
Kalau umurmu panjang, maka engkau akan melihat tempat ini penuh dengan kebun-kebun.
Sumber Berita :
[Islammemo/Bersamadakwah]
http://international.okezone.com/read/2013/12/14/214/912438/setelah-100-tahun-salju-turun-di-mesir
Berita terkait : http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/01/14/mgepyh-salju-turun-di-padang-pasir-arab-saudi
Subhanallah...
Maha Suci ALLAH yang telah menurunkan AL-Qur'an, dan mengirimkan kita seorang Nabi mulia, Rasulullah, Muhammad Saw. Semoga ALLAh senantiasa memberikan kita hidayah dan rahmat-Nya, sehingga kita menjadi hamba-Nya yang senantiasa selalu ingat dan berdzikir kepada-Nya. Aamiin


Minggu, 01 Desember 2013

FAKTA UNIK DANAU NATRON DI TANZANIA


Gempa Bumi Ubah Air Jadi Emas

Ajaib, Gempa Bumi Ubah Air Jadi EmasIVAnews - Gempa bumi adalah momok yang mengerikan. Bayangkan, dalam satu abad, korban jiwa akibat bencana ini diperkirakan menelan 3,6 juta korban jiwa. Belum lagi kerugian material.
Namun, sebuah studi baru mengungkapkan, gempa bumi bisa mengubah air menjadi emas. Ini seperti cerita-cerita dari buku fiksi ilmiah. Tapi kejadian ini benar-benar terjadi.
Bagaimana itu bisa terjadi?
Kandungan emas telah tersimpan di dalam perut bumi selama milyaran tahun, dan manusia melakukan pencarian dengan bantuan gelombang seismik.
Namun, terjadinya gempa bumi telah mengguncang bebatuan emas. Memisahkan bebatuan itu menjadi beberapa bagian, dan memungkinkan beberapa bagian menguap menjadi cairan.
Menurut Jurnal New Scientist, para ahli geologi telah lama mengetahui emas terbentuk dari sebuah mineral yang kaya kandungan air. Mineral itu mengalir di bawah tanah akibat dari retakan gempa bumi, kemudian menyatu dengan kandungan emas.
Studi terbaru ini menunjukkan bahwa perubahan tekanan yang terjadi akibat gempa bumi telah membantu mineral itu mengalir menuju retakan-retakan batuan di bawah perut bumi.
Menurut Dion Weatherley, ahli geofisika di University of Queensland di Australia, yang menjadi kepala penelitian, dengan menggunakan beberapa model, para peneliti mampu menentukan mekanisme kuantitatif yang menghubungkan emas dan mineral.
"Gempa bumi telah membuka banyak celah di dalam perut bumi, kemudian dari celah itu muncul emas yang menguap. Pada akhirnya mineral mengalir di celah itu dan telah membawa kandungan emas," kata Weatherley, dilansir dari Science World Report, 18 Maret 2013.
Ia menjelaskan, cairan mineral yang kaya kandungan emas itu dapat dengan cepat menjadi zat padat. Itu terjadi karena penurunan suhu yang begitu cepat. "Tekanan udara telah membuat cairan menguap dan meninggalkan sebuah emas," jelasnya.
Emas yang terbentuk dari cairan mineral setelah terjadi gempa bumi tidak begitu banyak. Paling banyak cairan itu membawa satu dari seperjuta elemen yang berharga.
"Namun, zona gempa di kawasan Alpine Fault di Selandia Baru telah berhasil membangun tambang emas selama 100.000 tahun," tutup Weatherley.
Studi ini telah diterbitkan pada tanggal 17 Maret 2013 di Jurnal Nature Geoscience dengan judul Flash Vaporization during Earthquakes Evidenced by Gold Deposits. (eh)